Selasa, 15 Mei 2012

Indonesia Tsunami Early Warning System (ina-TEWS)


Tsunami adalah perubahan permukaan laut dengan tiba-tiba dan secara vertikal yang menyebabkan adanya perpindahan badan air. Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang yang dalam artian harfiahnya dapat di artikan ombak besar yang ada di pelabuhan. Tsunami ini dapat terjadi karena pengaruh beberapa faktor. Hal yang menyebabkan terjadinya perubahan permukaan laut contohnya seperti gempa bumi yang pusatnya ada di bawah laut, letusan gunung api bawah laut (faktor vulkanik), adanya longsor yang terjadi di bawah laut, hingga adanya meteor yang jatuh tepat di laut.
Sama seperti gempa bumi, tsunami memiliki kecepatan yang tinggi, kecepatan tinggi itu tergantung pada kedalaman laut. Kecepatannya akan meningkat saat tsunami mencapai pantai. Perbandingan tinggi gelombang saat tsunami masih di laut dan di pantai juga terlihat jelas. Dimana saat tsunami mencapai pantai, gelombang yang terbentuk akan lebih tinggi dibandingkan dengan gelombang yang ada di tengah laut. Hal ini terjadi karena adanya penumpukan massa air yang terjadi di pantai sehingga tingginya bisa mencapai puluhan meter dengan kecepatan yang tinggi, sedangkan di tengah laut, tinggi gelombang hanya akan beberapa senti saja. Sehingga kerusakan pada daerah pantai sangat tinggi.
Pada beberapa Negara sudah dibangun sebuah alat untuk memprediksi timbulnya tsunami. Secara umum, sistem peringatan dini ini dinamakan TWS atau Tsunami Warning System. Sistem peringatan dini adalah sebuah sistem dimana bila ada gejala dari sebuah bencana atau kemungkinan akan terjadi suatu bencana akan diinformasikan ke suatu alat sehingga dapat meminimalisasi kerusakan. Ada dua jenis peringatan dini tsunami. Yaitu peringatan dini regional dan peringatan dini internasional. Untuk di Indonesia, sistem ini dinamakan InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Gejala-gejala seperti gempa bumi yang berpusat di laut serta titik pusat dimana terjadinya gempa akan terdeteksi oleh tsunami warning system. Badan yang berwenang untuk mengelola data tersebut adalah BMKG yang berpusat di Jakarta. 
Terdapat 2 komponen utama yang ada di dalam InaTEWS. Pertama adalah komponen struktural (sensor-sensor pendeteksi tsunami). Contohnya adalah seismometer, stasiun pasang surut dan tsunami buoy. Seismometer dioprasikan oleh BMKG, sedangkan stasiun pasang surut digunakan untuk mengukur keadaan muka air laut yang dipasang di pantai atau di pelabuhan. Tsunami buoy adalah sebuah alat yang dipasang di laut dalam. Di Indonesia sekarang menggunakan 4 jenis buoy yang sedang beroperasi di perairan Indonesia, yaitu Buoy Tsunami Indonesia, Deep Ocean Assessment and Reporting Tsunamis (DART) Amerika, German-Indonesian Tsunami Warning System (GITWS) dan Buoy Wavestan. Pada buoy ini terdapat OBU (Ocean Bottom Unit) dimana nantinya alat inilah yang mendeteksi adanya gelombang yang berpotensi sebagai tsunami yang lewat di atasnya. Komponen yang kedua adalah komponen cultural. Contohnya adalah beberapa instansi seperti LIPI, Kementrian Dalam Negeri dan Kementrian Komunikasi dan Informatika yang mempunyai tugas sebagai penyalur informasi kepada masyarakat, persiapan sebelum bencana bahkan evaluasi dan mengkaji pasca bencana. 
sumber : http://wildancahyo.wordpress.com/2010/10/29/ina-tews/
  Kekurangan dari tsunami warning system ini adalah manusia tidak dapat terlindungi dari tsunami yang terjadi secara mendadak. Dengan kata lain, sistem peringatan dini tsunami belum pernah menyelamatkan seorang pun dari bencana tsunami yang secara tiba-tiba. sistem peringatan dini tsunami ini dapat bekerja efektif jika jarak pusat gempa sangat jauh. Sehingga masyarakat dan pihak berwenang dapat mengevakuasi sehingga dapat meminimalisasi kerusakan yang akan terjadi setelah bencana itu terjadi.

Cara Kerja Tsunami Warning System
sumber : http://netsains.net/2009/02/mengenal-sistem-peringatan-tsunami-indonesia/
 Cara kerja dari TWS ini terbilang cukup rumit, karena melibatkan banyak pihak seperti badan regional, nasional, daerah, hingga internasional. Contohnya, bila terjadi gempa, seismograf akan mencatat dan memberikan info tentang lokasi gempa, besaran gempa, hingga waktunya. Lalu data tersebut akan diintegrasikan pada DSS (Device Support System) sehingga dapat diketahui bahwa gempa tersebut akankah berpotensi menjadi tsunami atau tidak. Data itu pun harus disamakan dulu dengan data yang diperoleh dari buoy atau OBU. Bila data tersebut memang berpotensi menimbulkan tsunami, maka BMKG akan mengeluarkan info peringatan tsunami kepada masyarakat. Data dikirim secara aktif oleh OBU melalui underwater acoustic modem yang nantinya akan sampai ke tsunami buoy yang terpasang di permukaan laut. Kemudian, data yang diterima buoy akan ditransmisikan via satelit ke pusat pemantau tsunami Read Down Station (RDS) di BPPT. Alat inilah yang berfungsi merekam kedatangan gelombang tsunami. lalu diteruskan ke Warning Center di BMKG.
Dalam InaTEWS, akan melakukan pengembangan sistem pengoprasian menggunakan kabel bawah laut. Sistem ini merupakan solusi dari pengoprasian buoy yang sering kali hilang atau rusak bahkan perawatan yang sulit. Sistem ini digunakan sebagai komplemen, dimana buoy tidak usah mengambang di laut, namun berada di darat. Meskipun begitu sensor yang digunakan tetap ada di dasar laut. Penghubung antara sensor yang ada di dasar laut itu ke pantai, memakai kabel optik. Keuntungan dari pemakaian kabel bawah laut, perawatannya yang dapat di pantau dan dikendalikan dari darat. Berbeda dengan buoy yang bila ingin diperbaiki harus mengirim kapal ke tengah laut. Namun, pemasangan kabel ini mempunyai kelemahan, yaitu sulitnya menerapkan info kepada masyarakat agar tidak merusak. Contohnya para nelayan dan kapal-kapal yang melewati di atas kabel tersebut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar